Sunday, October 5, 2014

Cerpen5

"Maaf Untuknya"


"Ra, tungguin gue"
teriak seseorang, aku berbalik melihat siapa yang memanggilku. aku tersenyum melihatnya menghampiriku. dia sahabatku, syifa namanya. aku dan syifa kenal saat MOS di SMK favorite ini. aku gak nyangka bakalan satu kelas sama dia dalam 2 tahun ini.
"ada apa?"tanyaku
"Ra, dengerin gue ni mau ngomong serius, serius banget"ucapnya dengan mimik berseri-seri.
"yaela loe mau ngomong apaan si sampe segitunya"ucapku datar.
"ni ya, tadi tuh di depan gerbang gue ketemu sama cowok yang super cool, wajahnya cakep, kulitnya putih, hidungnya mancung...akh perfect deh"terangnya panjang lebar
"akhirnya sahabat gue ini jatuh cinta juga"ucapku tertawa kecil.
"huft, Ra dia itu nanyain elo"katanya lirih.
"WHAT ? gue gak budeg kan?"aku kaget,
"biasa aja kali. dia nanyain elo,katanya dia itu temen loe.gue terpesona sampe* gue gugup jawabnya"cerita syifa
"kayaknya si dia murid baru"lanjutnya.setelah mendengar cerita syifa, aku mulai penasaran dengan cowok misterius itu.
"akh mungkin yang dia maksud bukan Tiara gue"ucapku tak peduli .ku langkahkan kaki menuju perpustakaan.
"tapi Ra..."ucap syifa terhenti sambil menarik tanganku.aku mulai kesal dengannya.jarak dari kelas ke perpustakaan yang tadinya bisa ditempuh dengan beberapa langkah kaki kini tiba* jauh.tak sampai juga.
"Ra loe liat deh cowok yang datang kemari, itu cowok yang gue ceritain tadi.gue duluan ya.bye"dia berbisik lalu meninggalkanku yang berdiri seperti patung.
DEGG ! Ya Tuhan,apakah ini memang nyata?kenapa dia harus muncul setelah aku sudah bisa melupakannya.apakah belum cukup juga sakit yang udah dia berikan.belum juga aku pergi,dia berhasil meraih tanganku hingga aku tak bisa berlari darinya.
"Ra tunggu"
"mau ngapain loe?belum puas loe nyakitin gue?"kataku sinis tanpa menatapnya.
jujur,meskipun kejadiannya uda lama tapi rasa sakit itu masih ada.cinta yang dulu indah namun harus berakhir karena orang ketiga.
"Ra gue minta maaf. sumpah gue nyesel Ra. gue cinta sama loe"
"loe bilang maaf?segampang itukah,!elo gak tau gimana yang gue rasain dulu. sakit,sakit banget.harusnya dulu gue gak percaya sama apa yang elo katakan"kataku kesal.
aku menghela napas,mencoba tuk tersenyum tapi tak bisa.
"maafin gue,harusnya gue gak nyia*in cinta loe.gue nyesel.gue bakal lakuin apa aja asal loe mau maafin gue.gue pengen kita bersama lagi kayak dulu"
"gak Di,maaf.gue gak bisa bersama loe lagi.udah cukup sakit yang gue rasain.loe udah khianatin kepercayaan gue ke elo.gue harap loe bisa lupain gue,lupain masa lalu itu"tegasku padanya.
"tapi Ra..."
"udah Di,gak ada tapi*an.gue maafin elo.kita bisa berteman..kalau loe mau."kataku pelan.
"beneran Ra,makasih..gue mau jadi temen loe kok.gue janji bakal mengembalikan kepercayaan loe ke gue"ucapnya senang.
"mulailah janji pada diri sendiri"ucapku lalu pergi meninggalkanya.
"iya Ra,makasih"ucapnya setengah berteriak.aku berbalik dan tersenyum.
terkadang kita tak pernah mau memaafkan seseorang yang udah buat hati kita sakit.tapi satu*nya obat sakit hati hanya ikhlas pada apa yang udah terjadi dan memaafkannya.

Saturday, October 4, 2014

Cerpen 4

"Kesedihanku"

Raviansyah, seorang laki-laki yang baik, keren, pintar. perfect lha. Banyak orang mengaguminya, namun ia selalu bersikap tak peduli. Satu minggu yang lalu kecelakaan terjadi membuat orang tua Ravi harus pergi selama-lamanya, Ravi jadi pendiam. Ravi selalu merenung meratapi kesedihannya, adiknya yang masih smp terpaksa dititipkannya pada Bi Nisa,adik ibunya di Jakarta karena Ravi sendiri yang sibuk bekerja melanjutkan usaha ayahnya di Bandung. Awalnya Ravi menolak, namun wanita cantik yang dianggap Ravi bidadari memberikan motivasi untuknya. Ravi bersedia. Namanya Bintang. Bidadari Ravi sejak kecil yang selalu melengkapi harinya.
***
"Hai Rav"Bintang menyadarkan Ravi dari lamunannya.
"Ada apa?"tanya Ravi menoleh.
"Kau teringat orang tuamu lagi.?"tanya balik Bintang. Ravi tersenyum kecut memandang langit yang nampaknya akan segera turun hujan.
"Kau harus kuat Rav, orang tuamu pasti sedih ngeliat anaknya yang kece badai ini sedih, cengeng banget si jadi cowok"celoteh Bintang
"sembarangan, emangnya kamu . yang ditinggalin bentar langsung nangis"sindir Ravi. Bintang terlihat cemberut tak terima.
"kamu kalau cemberut keliatan cantiknya"goda Ravi
"Raavii..."Bintang kesal dan mencubit lengan Ravi.
"Aw aw .. ampun deh ampun"Ravi meringis kesakitan.
"Makanya jangan berani sama aku. Awas aja ni"ancam Bintang mengepalkan tangannya. Ravi terkekeh melihatnya. Tiba-tiba wajah Bintang terlihat pucat, Ravi pun khawatir.
"Bintang, kau tak apa?"tanya Ravi cemas
"aku tak apa Rav, hanya pusing sedikit."ucap Bintang memastikan
"aku antar pulang ya"Bintang mengangguk mengiyakan permintaan Ravi.
Ravi mengantarkan Bintang pulang ke rumahnya.
"Ya Alloh, non kenapa lagi?"tanya Bi Ivah, pembantu di rumah Bintang saat melihat Ravi membopong tubuh Bintang masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa* Bi, gak usah khawatir"jawab Bintang.
Ravi membantu Bintang duduk di sofa.
"Pasti non Bintang gak makan obatnya"tebak Bi Ivah
"Aku lupa, Bi"jawab Bintang polos.
Ravi memandang Bintang heran.
"Bibi ambil obatnya dulu ya non"Bi Ivah berlalu.
Kini hanya ada Ravi dan Bintang yang saling membungkam mulut. Bintang yang tak menginginkan Ravi tau tentang penyakit yang dideritanya, terus berusaha tegar dihadapan Ravi.
"Bintang.."ucap Ravi memecah keheningan. Bintang hanya menoleh sebentar lalu membuang muka, ia tak sanggup menatap mata Ravi.
"kau sakit ?"Bintang menggeleng
"tapi wajahmu pucat sekali"Sekali lagi Bintang menggeleng, ia menahan air matanya.

Derttt..
hp milik Ravi bergetar ada telpon. Ravi menjauh dari Bintang. Bintang menatapnya nanar, ada keganjalan di hatinya. Ravi yang terlihat serius berbicara dengan si penelepon membuat Bintang penasaran. Ravi menghampiri Bintang dengan wajah cemas. Bintang mengerutkan dahi keheranan.
"Bintang, aku pamit pulang. Jaga kesehatanmu ya. Aku menyayangimu"belum juga Bintang bicara, Ravi sudah pergi.
***
Ravi mengemudikan mobilnya secepat mungkin menuju rumah Bibinya di Jakarta. Setibanya di rumah Bi Nisa Ravi segera menemui adiknya di kamar lantai 2.
Ceklek.. pintu dibuka Ravi, ia melihat adiknya terbujur kaku di tempat tidurnya. Bibi Ravi menangis disamping Tiwi,adiknya Ravi.
"Tiwi..."panggil Ravi, namun tak ada respon. Ravi memegang tangan Tiwi. Dingin, nadinya tak berdenyut lagi dan napasnya hilang. Ravi terlihat sedih.
"Apa yang terjadi pada Tiwi?"teriak Ravi emosi. Bibinya hanya terus menangis, beliau berusaha menenangkan Ravi.
"Rav, tenang. kendalikan emosimu. kamu harus kuat, ini sudah takdir Tuhan. Tiwi tak pernah sakit, tadi sepulang sekolah dia langsung demam dan menyebut nama ayah dan ibumu. Bibi akan membawanya ke RS namun Tiwi menolak, ia ingin bertemu denganmu. Tapi..."
"Tapi apa Bi ?"
"Tiwi menghembuskan napas terakhirnya sebelum kamu kesini"ucap Bi Nisa.
Betapa sakit hati Ravi, ia harus kehilangan orang yang disayanginya. Belum juga kesedihan atas kepergian orang tuanya terobati, ia harus merasakan kesedihan yang lebih sakit. Ravi mendekap tubuh adiknya untuk yang terakhir kalinya. Air matanya tak bisa disembunyikan lagi, ia menangis.
"Semoga kau tenang disana dan bertemu dengan ayah dan ibu"ucap Ravi berbisik ditelinga Tiwi.
***
Di Bandung, Bintang merindukan sosok Ravi. Dia gelisah, sudah dua minggu ini Ravi tak memberi kabar, nomer handphone nya tidak aktif. Sakit kanker yang terus menyerang Bintang seakan tak ingin mengalah. Bintang terus berbaring di tempat pasien dengan beberapa alat kedokteran. Bintang selalu menunggu dan menunggu kedatangan Ravi. Sedangkan Ravi, di Jakarta mencari hiburan untuk menghilangkan kesedihannya.
***
Malam ini hujan turun, seakan mengerti apa yang dirasakan Bintang saat ini. Pintu kamar dimana Bintang dirawat dibuka seseorang, Bintang berharap yang datang itu Ravi, namun harapannya tak nyata.
"Maama.."batin Bintang
"Sayang.. makan dulu ya"tawar mama Bintang, namun Bintang menolak.
"Maa.. Ravi mana ?"tanya Bintang.
Tak ada jawaban.
"Maa aku ingin menulis surat untuk Ravi"pinta Bintang. Mamanya mengangguk dan memberikan kertas juga bolpoin. Perlahan Bintang menggoreskan bolpoin itu di atas kertas putih. Setelah selesai ia menghela napas.
"Maa jika Ravi datang,berikan surat ini padanya"ucap Bintang menyerahkan surat itu pada mamanya.
"Aku sudah tak tahan lagi maa, aku sayang mama"lanjut Bintang, matanya menutup untuk selamanya. Mama Bintang menangis histeris.
Tiga minggu, Ravi di Jakarta. Tiba-tiba Ravi merindukan Bintang. Ia kembali ke Bandung sore ini juga. Tiba di rumah Bintang, ia berpapasan dengan mama Bintang yang sedang duduk di bangku taman. Ravi menghampiri mama Bintang.
"Siang tante"sapa Ravi
"eh nak Ravi, siang juga. kemana saja kamu?"tanya mama Bintang
"Saya dari Jakarta, tiga minggu yang lalu adik saya meninggal."jawab Ravi mencoba tegar.
"Innalillahi, nak Ravi yang sabar ya. Tante turut berduka cita"ucap mama Bintang menepuk bahu Ravi, ia terlihat sedih.
"Makasih tante, oh ya Bintangnya kemana?"Ravi celingukan mencari Bintang. Mama Ravi tak menjawab, ia hanya memberikan surat. Ravi menerimanya. Ravi membuka surat itu, dan perlahan membacanya.
To : Ravi tersayang
Hai, apa kabar ? semoga kau baik-baik saja. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku telah bahagia bertemu dengan Tuhan.
Selama ini kau kemana? kau menghilang, rasa rinduku lebih menyakitkan daripada sakit kankerku ini. Aku merindukanmu.
Maafkan aku yang tak pernah menceritakan tentang penyakitku.
Andaikan aku diberi kesempatan untuk hidup lebih lama, aku menginginkan kau menjadi imamku. namun nyatanya impian itu harus ku kubur dalam-dalam.
Ravi, bila ku tak ada lagi di dunia ini tetaplah tersenyum untukku. Aku sangat mencintaimu.
Bintang.

Tes..tes..tes, air mata Ravi jatuh membasahi pipinya. Ia seakan tak percaya, semua orang yang disayanginya pergi meninggalkanya. 'Tuhan.. apa salahku hingga Kau ambil mereka dariku ? kenapa ?'jerit hati Ravi.

betapa hancur hati, hilang gairah hidup, serasa hampa selimuti di jiwa, tak ada lagi tawa, dan tak ada ceria, semua hilang terkubur dalam duka, dia kini telah pergi jauh, terbang tinggi tinggalkan ku disini, Tuhan Engkau tau aku mencintainya, dan tak ada yang bisa mengganti dirinya, Tuhan hanya dia yang selalu ada, dalam anganku dalam benakku.
Blackout_Selalu Ada

Thursday, October 2, 2014

Cerpen3

Aku Yang Tersakiti

Dan bila ku teringat akan tentangmu, hanya menangis yang ku bisa. Perih, sakit, benci semuanya jadi satu. Dasar bodoh ! umpatku dalam hati. Meski kejadian itu sudah berlalu, namun tetap saja terus membuatku terpuruk.

Enam bulan yang lalu, tepat setelah hari jadi yg ke 1th. Dino, kekasihku yang selalu aku rindu dan ku sayang memutuskan cintaku. Entah apa yang terjadi, dia tiba* memutuskannya dan pergi tak kembali. Padahal sebelumnya tak ada percecokan antara kita. Hanya saja kita jarang komunikasi, tapi itu kan karena hapenya rusak dan selalu sibuk dengan pekerjaan. Meski begitu aku tak mempermasalahkannya.Arggh sudahlah, bikin pusing saja. Setelah kelelahan menangis, aku tertidur lelap.
***
Namaku Vira Eprilia, dan aku mengenal Dino saat aku menghadiri acara ulang tahun temanku, Lerisa. Memang aku akui, saat pertama kali aku melihat Dino aku terpesona. Namun segera aku sadar saat ku tahu Dia menatapku dan tersenyum. Oh My God ! aku tak tahan dengan semua itu, aku segera menghindar darinya.

Sejak pertemuan itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya sampai suatu waktu ada yang menelponku mengaku Dino. Awalnya iya aku tak percaya, tapi setelah Lerisa bercerita, aku pun percaya.

Siang malam terus berganti hingga kini bulan berganti bulan. Kedekatanku dengan Dino membuahkan cinta. Selama setengah tahun ini, aku masih berbahagia dengannya. Walaupun tak sering bertemu namun dia selalu pengertian dengan selalu menelponku. Ya jarak yang memisahkan. Dia di kota seberang sana sedang mengadu nasib. Terkadang aku iri pada mereka yang selalu bersama, malam mingguan. Namun aku harus mengerti tentangnya.

"Hape kok diliatin terus"ucap Lerisa mencolek lenganku. Aku hanya tersenyum menolehnya dan menyimpan hape ke dalam tas.
"Akhir* ini Dino berubah"ucapku lirih.
"Kenapa?"
"Entahlah, sekarang dia jarang menelponku. Dia seperti menjaga jarak dariku"
"Hemm yang sabar yah. Aku yakin kamu itu wanita yang kuat menghadapi ini. Semangat dong"kata Lerisa tersenyum.
***
Malam minggu yang malang. Lagi* aku sendirian. Waktu sudah menyuruhku untuk tertidur namun aku masih tetap setia menatap layar hape. Menunggu Dino menghubungiku, aku rindu padanya. Sudah berulang kali kucoba menghubunginya namun tak ada respon.
'Mungkin dia sibuk'batinku.
***
Bukan karena aku sudah tak mencintainya tapi aku lelah. Ya aku lelah dengan semua ini. Aku merasa tersiksa, hubunganku dengan Dino sudah tak jelas. Berminggu* tak ada kabar dan itu membuatku harus menangis saat merindukannya.

Beribu tanggapan tentang Dino membuat telingaku panas mendengarnya. Namun aku tak menghiraukannya karena aku yakin Dino akan kembali padaku dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sering ku mencoba untuk melupakannya, berpaling darinya namun gagal. Aku tak bisa. Sungguh cintaku hanya untuknya.

Hari ini aku dan Lerisa sudah berjanji akan ke rumah Eca untuk mengerjakan tugas kuliah bersama.
"Vir bagaimana Dino?"tanya Eca.
"Baik* saja."jawabku singkat.
"Vira itu memang hebat. Selama ini Vira selalu sabar dan setia padanya meskipun Dino tak pernah mengabarinya. Andaikan aku itu kamu, Vir. Maka aku tak akan mau menunggunya yang sudah tak jelas begitu. Aku salut padamu"ucap Lerisa panjang lebar dan aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Sudah* kita kembali mengerjakan tugasnya, hari sudah sore"ucap Lerisa lagi.

"What?"ucap Eca kaget. Aku dan Lerisa meliriknya heran.
"kenapa Ca?"tanya Lerisa.
"Lihat ini lihat"teriak Eca riweuh menunjuk* laptopnya. Aku dan Lerisa menghampirinya dan melihat laptopnya. Aku hanya bisa diam dan mencoba menahan tangis.
"Kamu gak apa* Vir?"tanya Lerisa menatapku. Aku menggeleng.
"Lihat Vir, Dino itu gak pantes buat kamu. Putuskan dia, aku gak mau liat kamu sedih."ucap Eca membuatku menitikkan air mata. Segera ku menghapusnya.
"Maafkan aku Vir"tambah Eca.
"Sudah jangan menangis. Eca benar, Dino gak pantas buat kamu Vir. Nyatanya dia selingkuhin kamu. Dia berani mampangin status berpacaran dengan wanita lain."kata Lerisa. Aku merasakan duri* tajam menusuk hatiku membuat ku harus meringis kesakitan. Tuhan apakah ini jawaban atas semua kesabaranku? Sakit Tuhan. Aku menangis sesenggukan dalam pelukan Lerisa,sahabatku.

"Sudah Vir, aku yakin suatu saat nanti kamu dapat yang lebih baik dari Dino."kata Eca.
"Ayo pulang, Vir. Biar aku antar."ajak Lerisa. Aku mengangguk mengiyakan.
***
"Le kita mampir dulu ke taman kota ya"ucapku pada Lerisa dan Lerisa mengangguk.
Setiba di taman kota, aku menghela napas kuat*. Betapa aku terkejutnya saat aku melihat seseorang yang tak asing lagi bagiku. Ya dia Dino, sejak kapan dia disini, mengapa dia tak menemuiku. Aku tertangkap basah menatapnya, segera ku palingkan wajahku dan berlalu.

"Sayang tunggu"ucap seseorang dari belakangku meraih tanganku. Aku menolehnya.
"Siapa kamu?"tanyaku berat.
"Ini aku Dino, kekasihmu.Aku merindukanmu"ucap Dino mencoba merangkulku namun aku menghindar.
"Cukup Din, kamu bukan kekasihku lagi. Setelah aku tau kamu itu menghianatiku. Kamu selingkuh iya kan?"ucapku. Dino hanya diam membisu.
"Kenapa Din? Kenapa kamu gak jujur ke aku kalau kamu gak cinta lagi sama aku? Selama ini aku selalu menunggu kamu, tapi kamu malah sama orang lain."ucapku menangis. Sungguh, aku tak sanggup lagi menahan apa yang kurasakan selama ini. Sangat kecewa aku mengetahui ini semua.
"Maafkan aku Vir"kata Dino mencoba menghapus air mataku namun aku menepisnya.
"Maafkan aku Vir, aku mencintainya"
PLAKKK ! satu tamparan untuk Dino. Mengapa dia mengatakannya padaku, tak taukah dia bagaimana hatiku saat ini.
"Aku kecewa sama kamu Din, aku benci. Sangat benci. Makasih udah mau jadi penghuni hatiku meskipun akhirnya begini."ucapku pergi.
"Maafkan Vira"kata Dino setengah berteriak.

Aku tak menghiraukannya, yang aku inginkan hanyalah pergi. Pergi sejauh mungkin.
"Vir kamu kenapa?"cegat Lerisa.
"Antar aku pulang Le"ucapku segera masuk ke dalam mobil Lerisa.
Lerisa mengemudikan mobilnya namun aku masih menangis. Masih tak terbayangkan olehku bahwa semuanya akan seperti ini.
"Menangislah Vir, jika itu yang bisa membuat hatimu tenang"ucap Lerisa saat sudah sampai di depan rumahku.
"Le apa emang harus seperti ini kisah cintaku? Hatiku sakit Le"
"Tuhan pasti punya rencana yang baik atas semua ini. Percaya itu Vir"
"Aku ingin ke Bandung Le."ucapku keluar mobil dan segera masuk ke kost'an. Lerisa mengikutiku.
"Itu berarti kamu juga akan pindah kuliah"kata Lerisa lirih. Sejenak aku menghela napas dan segera membereskan semua barang*ku, kecuali photo itu. Photo aku bersama Dino. Aku membantingnya dan kaca pigura itu pecah.
"Maafkan aku Le"ucapku.
"Ya sudah, biar aku antar ke stasiunnya"
"Makasih Le"

Lima belas menit aku sudah sampai di stasiun dan segera membeli tiket jurusan Yogyakarta-Bandung. Aku duduk di bangku dan Lerisa duduk disampingku. Lama aku dan Lerisa saling berdiam diri sampai pengumuman keberangkatan kereta jurusan Yogyakarta-Bandung mengingatkan untukku segera bersiap*.
"Jangan pernah lupakan aku ya Vir. Semoga kamu menemukan kebahagianmu disana."ucap Lerisa dengan mata berbinar*.
"Aku tak akan pernah melupakanmu, kamu sahabatku. Aku banyak hutang budi padamu. Maafkan aku, aku belum bisa membalasnya"
"Lupakan itu Vir, kita sahabat. Iya kan?" Aku mengangguk dan ku peluk Lerisa.
"Aku pasti akan merindukanmu Le"ucapku melepaskan pelukannya.
Tuuutttt... Kereta jurusan Yogyakarta-Bandung berhenti tepat dihadapanku.
"Aku pergi Le"pamitku pada Lerisa.
"Iya Vir, hati*. Jaga dirimu baik* dan sampaikan salamku pada keluargamu."
"Pasti Le"aku segera masuk ke dalam kereta dan memilih bangku dekat jendela. Kereta melaju dan Lerisa melambaikan tangan. Aku membalasnya. Seketika aku menangis. Ku pasangkan headshet ke telinga dan memutar lagu Judika dengan judul Aku yang tersakiti mengiringi kepergianku. Betapa pedihnya kisah cintaku. Berawal dari pertemuan yang mengesankan dan berakhir dengan perpisahan yang mengenaskan. Aku sadar bahwa tak selamanya apa yang aku harapkan itu akan tercapai.

Cerpen2

"Aku memaafkanmu, Ayah !"
 
Pagi ini Rani terbangun dari mimpi indahnya. Ia melirik ke sampingnya, namun ia tak melihat ibunya tertidur disana. Akhir* ini ayahnya suka pulang pergi kapan saja, Rani tak pernah tau apa yang membuat ayahnya tak betah di rumah. Karena itu Rani sering tidur bersama ibunya, ia tak ingin jauh dari wanita yang sangat ia cintainya. Tak jarang pula Rani melihat ayahnya bersikap kasar pada ibunya, membuat Rani membenci ayahnya sendiri.
"Bu..."panggilnya lembut. Tak ada sahutan.
"Uhukk..uhukk"suara batuk terdengar Rani yang berasal dari kamar mandi, segera ia kesana dan melihat ibunya sedang mencuci pakaian.
"Bu.."panggil Rani.
"Iya Ran, uhukk...uhukk"
"sudah Bu, biar Rani yang mencuci. Ibu harus istirahat"
"Tidak Ran, kamu harus segera siap-siap untuk berangkat sekolah."
"Tapi Bu.."
"Rani dengarkan ibu, ibu gak mau kamu di skor gara* kesiangan masuk sekolah"tegas ibunya tanpa menoleh.
"Baik Bu"jawab Rani lemah. Ia segera mandi, sarapan dan terakhir ia sudah siap berangkat.
"Rani..."panggil seseorang dari luar rumah.
"Iya Dika. tunggu sebentar."seseorang yang memang akrab dipanggil Dika itu sahabatnya Rani. Mereka selalu bersama kemana pun mereka pergi, termasuk berangkat sekolah. Dika akan menjemput Rani dengan sepedanya.
"Bu, Rani berangkat sekolah dulu. Ibu baik* ya di rumah"Rani mencium punggung tangan ibunya.
"Iya Ran, hati*. belajar yang rajin"pesan ibunya.
Rani menghampiri Dika yang sudah menunggunya.
"Let's go Dika !"ucap Rani. Dika tersenyum dan segera mengayuh sepedanya.
***
"cieee ekhem* cuit cuit wiw Rani sama Dika bareng terus ya. Kenapa gak jadian aja. Kan serasi"Rani dan Dika hanya tersenyum mendengarnya karena memang sering teman*nya berkata seperti itu. Segera Dika dan Rani masuk kelas.
***
Teng..teng.. Bel tanda pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan bergegas pulang.
"Ayo Ran, kita pulang"ajak Dika menghampiri Rani.
"Iya ayo"
Selama diperjalanan Rani dan Dika terus berbincang*.
"Ran, setelah lulus dari SMA kamu mau kuliah?"tanya Dika.
"Maunya si kuliah, Dik. Tapi ya kamu tau sendiri kan gimana keadaan keluargaku"ucap Rani.
"Iya tapi kan bisa sambil kerja. ntar kerjanya bareng aku."Dika.
"Nah lho kalau bareng kamu terus aku bosen liat wajah kamu yang jelek itu.Haaha"Rani tertawa, Dika yang tak menerima hal itu mencubit pelan tangan Rani. Alhasil sepedanya oleng dan GUBRAK. Mereka terjatuh. Mata mereka berpandangan, hati pun ikut bergetar menumbuhkan benih* cinta dihati mereka masing*. Rupanya mereka saling jatuh cinta. Rani dan Dika bangkit dan melanjutkan perjalanan pulang tanpa sepatah katapun yang keluar dari mereka.
***
***
"Dik mau mampir dulu ?"tawar Rani saat sudah sampai rumahnya.
"Tidak Ran, terima kasih. Lain waktu saja. Salam pada ibumu ya. Aku pulang"
"Iya Dik, hati*"
Rani segera masuk rumahnya.
"Bu..Rani pulang"ucap Rani gembira.
PRAANGG ! terdengar sebuah benda pecah Rani tau sepertinya itu karena amarah ayahnya.
"Ibu.. Ibu tidak apa*?"Rani menghampiri ibunya yang terduduk dilantai.
"Ayah jahat. Rani benci ayah."ucap Rani emosi.
"Diam kau. Dasar anak kurang ajar"ucapnya menendang kakiku lalu pergi membanting pintu.
"Ayah aku benci. aku tak akan memaafkanmu"teriak Rani.
Kini Rani menangis dan membopong ibunya ke tempat tidur. Ibunya terus saja menangis.
"Sudah bu, jangan tangisi ayah. ayah emang pantas pergi dari rumah ini."
"Rani dia itu ayahmu, tak sepantasnya kamu seperti itu"ucap ibunya.
"apa ibu bilang, ayah?"kata rani tersenyum sinis.
"Rani..uhukk uhukk"ibunya terbatuk*.Rani cemas melihat ibunya.
"Bu.. ibu minum dulu"Rani memberikan segelas air minum, diminumkannya pada ibunya. Ibunya dibiarkan istirahat. Rani menatap pilu, hanya menangis yang ia bisa.
***
Empat hari ini, ibunya terus terbaring ditempat tidurnya. Ibunya sakit keras, Rani selalu membujuk ibunya untuk berobat, tapi tak dihiraukannya.
Dan tiga hari ini, Rani tidak masuk sekolah. Bukan karena Rani bolos tapi karena belum bayar uang SPP. Rani tidak berani memberi tahu ibunya. Setiap paginya Rani selalu pamit pada ibunya untuk berangkat sekolah, namun nyatanya itu hanya alasan saja. Rani akan mengganti baju sekolahnya ketika sudah merasa jauh dari rumahnya dan kembali memakai baju sekolah saat pulang. Waktu itu Rani gunakan untuk mencari uang dengan menjajakan koran dengan berita baru disetiap lembarnya saat lampu merah menyala di jalan raya. Seperti saat ini, Rani sedang istirahat. Menghitung uang hasil kerjanya menjajakan koran. Sesekali ia meneguk ludahnya karena sengatan matahari yang membuat kerongkongannya kering. Ia usap keringat didahinya. Seketika Rani hanyut dalam lamunannya, mengeluh karena merasa Tuhan gak adil padanya.
"Rani..kau melamun saja, ntar kesambet lo."Dika datang tiba* dan membuyarkan lamunannya. Rani tersenyum.
"Ini minum. kau pasti kehausan"ucap Dika menyodorkan air mineral. Rani tersenyum menerimanya.
"Terima kasih"kata Rani.
"Sama* cantik"
Rani menoleh heran, baru kali ini sahabatnya memanggil ia dengan sebutan cantik.
"Heh ngeliatinnya biasa aja. Ntar jadi gak belajar nya?"ucap Dika.
Rani memang beruntung punya sahabat seperti Dika. Selama Rani tidak masuk sekolah, tapi Rani selalu mendapatkan pelajaran dari Dika.
"Iya jadilah, seperti biasa ya di rumahmu."ucap Rani.
"Ya sudah, ayo pulang."ajak Dika.
"Ayo"
***
"Aduh gak ngerti, Dik. Susah banget ngitungnya"keluh Rani.
"Yang mana? sini aku ajarin"Dika merapatkan posisi duduknya. Dika mulai menggoreskan penanya diatas kertas putih. Berbicara menjelaskannya, tapi Rani malah bengong. 'Dika cakep ya. Duh jadi deg*an gini'batin Rani.
Dika yang merasa tak dihiraukannya, mencubit hidung Rani yang memang tak mancung itu. Alhasil Rani terperanjat kaget dan cemberut mengelus hidungnya.
"Kamu ini mau belajar atau mau liatin aku"ucap Dika. Rani tersipu malu.
"Dik, aku mau pulang. Perasaan aku gak enak"
"Ya udah ayo, aku antar. Aku mau menjenguk ibumu"
Tak butuh waktu lama menuju rumah Rani. Setiba di rumah, Rani bergegas masuk. Tujuan utamanya masuk kamar ibunya, ia ingin memastikan kalau ibunya baik* saja. Perlahan Rani mendekati ibunya yang tertidur.
"Bu.."panggil Rani pelan.
"Bu..Ibu..Dika datang"Tak ada sahutan, kini Rani cemas. Ia menggoncangkan tubuh ibunya, tetap saja tak bangun.
"Ibu, jangan tinggalin Rani bu."histeris Rani.
Dika mendekat, memeluk Rani. Ia mengerti bagaimana rasanya ditinggal orang tersayang.
"Yang sabar ya Ran. Aku turut berduka cita"
***
Seusai pemakaman, Rani sepertinya enggan beranjak dari kuburan iburan. Ia terus memeluk nisan dan menangis.
"Ayo Ran, kita pulang."Ajak Dika. Rani mengangguk.
Malam ini Rani kesepian, hanya tangisan yang terus menemaninya. Derasnya hujan seakan mengerti bagaimana rasa sakitnya ditinggal orang tercinta. Rani berbaring di tempat tidurnya, tempat biasa Rani tidur bersama ibunya. Masih sangat sulit untuk Rani bisa percaya dengan kenyataan pahit ini, sakit bahkan sangat sakit.
"Ibu semoga kau tenang di alam sana"batin Rani.
***
Empat tahun kemudian, Rani telah sukses menjadi seorang dokter anak begitupun dengan Dika. Dika menjadi seorang polisi. Selama mereka berjuang menggapai cita*nya, tak pernah sedikit pun mereka berjauhan. Meskipun kesibukan selalu menghampiri mereka, tetapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk bertemu, jalan*, bercanda seperti dulu.
"Rani.."panggil Dika.
"Hemm iyaa..kenapa Dika?"
"Sekarang kan kita sudah pada sukses ni"ucap Dika.
"Lalu ? apa ada masalah?"tanya Rani tak mengerti.
"Tentu. Ran, Maukah kau menikah denganku?"ucap Dika serius, bertekuk lutut dihadapan Rani seraya menyodorkan kotak merah berbentuk hati yang berisi cincin. Rani terperanjat kaget, ia tak percaya bahwa Dika akan melakukan itu. Lama mereka terdiam sampai Dika merasa bersalah.
"Maafkan aku Ran, mungkin ini memang terlalu cepat. Tapi jujur Ran, aku sangat mencintaimu. Sejak kita kelas XII SMA, aku sudah niat ingin menjadikanmu istriku. Atau mungkin kau mencintaku. Aku tak akan memaksamu untuk menerimaku. Maafkan aku"ucap Dika panjang lebar. Rani hanya terdiam menunduk, ia menangis. Rani menangis bahagia.
"Dika aku mencintaimu.. aku mau menjadi istrimu. mendampingimu hingga maut memisahkan"
"Terima kasih. I Love You"ucap Dika.
"I Love You too"balas Rani. Dika memasangkan cincin itu pada jari manis Rani. Keduanya tersenyum bahagia.
***
Sore ini angin berhembus menerpa rambut Rani. Di bangku taman kota ini Rani nampaknya gelisah. Sudah satu jam lebih ia menunggu Dika kekasihnya. Dika sudah berjanji akan menemaninya jalan* sore ini. Berkali* ia mencoba menghubungi nope Dika, namun tak ada jawaban. Rani mulai merasa bosan, ia bangkit dan melirik kiri kanan berharap Dika muncul. Ia mendengus kesal lalu pergi.
Sementara itu Dika datang, namun ia tak menemukan Rani. Tanpa berpikir lebih lama Dika segera mencari, ia begitu yakin bahwa Rani belum jauh dari taman ini.
***
Rani kecewa. Ia terus berjalan hingga ia melihat orang sedang berkumpul. Ia penasaran dan menghampirinya. Ternyata ada sirkus monyet, ia pun tertarik. Sesekali Rani bertepuk tangan melihat tingkah laku si monyet. Seketika ia lupa dengan Dika. Pertunjukan selesai, ia mengambil uang lembaran seratus ribu dan hendak memberikannya pada tukang sirkus. Tapi betapa kagetnya Rani saat melihat sosok ayahnya berdiri dihadapannya. Ya tukang sirkus itu ayahnya.
Rani hendak pergi namun berhasil dicegah ayahnya.
"Lepaskan tanganku. Aku tak mengenal anda"ucap Rani berontak.
"Rani.. ini ayah nak"ucap ayahnya melepaskan genggamannya.
"Ayah ! aku tak punya ayah."tegas Rani. Ia tak peduli dengan orang* disana melihatnya. Benci itu masih ada dalam hatinya.
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah."ucap ayahnya menangis.
"Sudah ku bilang, aku tak mengenalmu dan aku tak punya ayah."kata Rani lalu pergi. Hatinya terluka, sebenarnya ia pun tak tega melihat ayahnya.
"Rani, tunggu nak. Ayah minta maaf"ayahnya berteriak dan terus mengejar Rani.
BRAAKK ! sebuah mobil mewah menabrak tubuh ayahnya. Rani menoleh.
"Ayah.."teriak Rani menghampiri. Dipangkulah ayahnya.
"Ayah. .ayah jangan pergi. Maafkan aku"ucap Rani menangis. Ia menyesal.
"Maafkan ayah nak. Maafkan ayah"ucap ayahnya terbata*.
"Aku memaafkanmu. ayah ! jangan tinggalin Rani. Rani sayang ayah"seketika ayahnya menghembuskan napas terakhir.
"Ayaaaahhh"Rani berteriak dan menangis. Dika yang mendengar teriakan itu mencarinya dan Dika melihat orang* berkerumun di jalanan. Ia menghampirinya dan menembus masuk ke dalam. Ia melihat Rani menangis. Dika menghampiri Rani dan memeluknya.
"Ayah Dik, ayah meninggal. Ini semua salahku"isak Rani dalam pelukan Dika.
"Ini sudah takdir Tuhan Ran, ikhlaskan ayahmu dan do'akan semoga tenang di alam sana"kata Dika mencoba menenangkan ,tapi Rani terus saja menangis dan memanggil nama 'ayah'.

Cerpen1

Aku Benci Mereka


Dan ternyata, selama ini aku telah salah memilih seorang teman. Aku salah menilai, Tuhan betapa sakitnya hatiku saat ini. Aku benci dirinya. Ranti Apipah, orang yang selama ini dekat denganku. Orang yang selalu aku banggakan dan aku kagumi, ternyata menusukku dari belakang. Sesak dada ini, saat aku melihat sahabatku bersama Azril, kekasihku yang sangat kucintai. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Tak ada yang bisa kulakukan, Azril lebih memilih Ranti daripada aku.
"Ranti, kenapa kau tega merebutnya dariku ?"Ucapku dalam tangisku. Ranti hanya menunduk menangis, entah apa yang ia tangisi.
"Maafkan aku Nes,"ucapnya menatapku. Semudah itukah ia meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan padaku. Aku memalingkan wajahku darinya, rasanya aku enggan sekali menatapnya.
"Kau seperti tak punya hati, Ran. Aku mencintai Azril, kau tau itu. Tapi kenapa kau ambil dia dariku."kataku emosi.
"Maafkan aku Nes, aku tak bermaksud mekhianatimu. Aku akan pergi menjauhi Azril. Tapi tolong maafkan aku."ucapnya meminta belas kasihan.
"Jangan pergi dariku Ran"ucap seseorang dari arah lain yang ternyata ia adalah Azril. Sontak aku kaget mendengarnya, apa maksudnya?
"Aku mencintaimu Ran"ucap Azril pada Ranti tepat didepan mataku sendiri. Tak sadarkah ia bahwa ada aku disini,kekasihnya.
"Tapi.. Nesa lah cintaimu.."ucap Ranti melirikku. Azril menghela napas.
"Maafkan aku Nes, aku mencintai Ranti. Kita putus."ucapan itu keluar dari mulut Azril begitu saja,seakan ia tau apa yang hatiku pertanyakan. Kenapa ia mengingkari janjinya padaku? Apa salahku?

Tak ada sepatah kata pun yang aku keluarkan. Hatiku sangat terluka. Aku pergi meninggalkan mereka. Aku segera pulang ke rumah, bergegas masuk kamar dan mengurung diri. Kutenggelamkan wajahku dibantal. Aku menangis sesenggukan. Sakit hati, benci, sayang, semuanya tercampur aduk. Aku tertidur karena kelelahan menangis.
Matahari menyambut pagi, aku bangun dari tidur dengan mata yang sembab akibat semalaman aku menangis. Hari ini tak seperti sebelumnya, tak akan ada Azril ataupun Ranti dalam hariku. Rupanya aku harus menerima kenyataan itu. Aku harus bisa merelakan Azril untuk sahabatku.
Jam menunjukkan pukul 15.45 WIB, aku masih mengurung diri didalam kamar. Suara di perut meminta makanan. Ya sejak pagi aku belum makan.
"Tok..tok..tok"suara pintu kamarku diketok. "Siapa?"tanyaku tanpa membuka pintu. Tak ada jawaban. Pintu terus diketok, aku yang merasa risih beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Betapa kagetnya saat aku melihat siapa yang datang.
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU HAPPY BIRTHDAY NESA"Ucap Azril dan Ranti bersamaan. Ya Tuhan kenapa aku bisa lupa dengan hari ulang tahunku. Ranti yang membawa kue ulang tahun dan Azril membawa sekuntum bunga mawar putih. Azril bertekuk lutut dihadapanku seraya menyerahkan sekuntum bunga mawar itu. Air mataku tak dapat ku tahan lagi.
"Nesa maafkan aku, kejadian kemarin hanyalah rencanaku untuk kejutan ini. Aku mencintaimu. Maukah kau memaafkanku dan Ranti?"kata Azril.
"Iya Nes, maafkan aku"lanjut Ranti.
Aku menghapus air mataku, aku tak percaya ini. Mereka tega membohongiku. "Aku memaafkan kalian"kataku tersenyum. Azril berdiri dan memelukku. Aku membalas pelukannya.
"Makasih sayang..Aku mencintaimu."bisik Azril.
"Sampai kapan kalian akan terus berpelukan?"ucap Ranti membuatku melepaskan pelukan Azril.

Aku tersipu malu.
"Nes ayo tiup lilinnya. Jangan lupa make a wish dulu."ucap Ranti.
Sejenak aku memejamkan mata dan berdo'a dalam hati, lalu meniup lilin.
"Happy Brithday Nes, semoga apa yang kamu inginkan tercapai. Aamiin"ucap Ranti
"Semoga kita lebih romantis dan langgeng ya sayang. Aamiin"tambah Azril.
"Aamiin Ya Robbal Alamin"kataku.
"Kau sudah tak benci padaku?"tanya Ranti. "Aku benci kamu Ran, sangat benci. Juga kau Azril"ucapku berpura-pura marah dengan memalingkan wajahku. Ranti dan Azril memasang muka cemberut. Aku tertawa dan mencolek kue tart itu. Aku coreti wajah Ranti dan Azril dengan kue. Mereka membalasnya dan kami pun tertawa.
Kejutan yang sangat indah. Aku tak akan melupakannya, dimana saat aku sangat benci mereka yang sudah sukses membuatku galau.