Thursday, October 2, 2014

Cerpen2

"Aku memaafkanmu, Ayah !"
 
Pagi ini Rani terbangun dari mimpi indahnya. Ia melirik ke sampingnya, namun ia tak melihat ibunya tertidur disana. Akhir* ini ayahnya suka pulang pergi kapan saja, Rani tak pernah tau apa yang membuat ayahnya tak betah di rumah. Karena itu Rani sering tidur bersama ibunya, ia tak ingin jauh dari wanita yang sangat ia cintainya. Tak jarang pula Rani melihat ayahnya bersikap kasar pada ibunya, membuat Rani membenci ayahnya sendiri.
"Bu..."panggilnya lembut. Tak ada sahutan.
"Uhukk..uhukk"suara batuk terdengar Rani yang berasal dari kamar mandi, segera ia kesana dan melihat ibunya sedang mencuci pakaian.
"Bu.."panggil Rani.
"Iya Ran, uhukk...uhukk"
"sudah Bu, biar Rani yang mencuci. Ibu harus istirahat"
"Tidak Ran, kamu harus segera siap-siap untuk berangkat sekolah."
"Tapi Bu.."
"Rani dengarkan ibu, ibu gak mau kamu di skor gara* kesiangan masuk sekolah"tegas ibunya tanpa menoleh.
"Baik Bu"jawab Rani lemah. Ia segera mandi, sarapan dan terakhir ia sudah siap berangkat.
"Rani..."panggil seseorang dari luar rumah.
"Iya Dika. tunggu sebentar."seseorang yang memang akrab dipanggil Dika itu sahabatnya Rani. Mereka selalu bersama kemana pun mereka pergi, termasuk berangkat sekolah. Dika akan menjemput Rani dengan sepedanya.
"Bu, Rani berangkat sekolah dulu. Ibu baik* ya di rumah"Rani mencium punggung tangan ibunya.
"Iya Ran, hati*. belajar yang rajin"pesan ibunya.
Rani menghampiri Dika yang sudah menunggunya.
"Let's go Dika !"ucap Rani. Dika tersenyum dan segera mengayuh sepedanya.
***
"cieee ekhem* cuit cuit wiw Rani sama Dika bareng terus ya. Kenapa gak jadian aja. Kan serasi"Rani dan Dika hanya tersenyum mendengarnya karena memang sering teman*nya berkata seperti itu. Segera Dika dan Rani masuk kelas.
***
Teng..teng.. Bel tanda pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan bergegas pulang.
"Ayo Ran, kita pulang"ajak Dika menghampiri Rani.
"Iya ayo"
Selama diperjalanan Rani dan Dika terus berbincang*.
"Ran, setelah lulus dari SMA kamu mau kuliah?"tanya Dika.
"Maunya si kuliah, Dik. Tapi ya kamu tau sendiri kan gimana keadaan keluargaku"ucap Rani.
"Iya tapi kan bisa sambil kerja. ntar kerjanya bareng aku."Dika.
"Nah lho kalau bareng kamu terus aku bosen liat wajah kamu yang jelek itu.Haaha"Rani tertawa, Dika yang tak menerima hal itu mencubit pelan tangan Rani. Alhasil sepedanya oleng dan GUBRAK. Mereka terjatuh. Mata mereka berpandangan, hati pun ikut bergetar menumbuhkan benih* cinta dihati mereka masing*. Rupanya mereka saling jatuh cinta. Rani dan Dika bangkit dan melanjutkan perjalanan pulang tanpa sepatah katapun yang keluar dari mereka.
***
***
"Dik mau mampir dulu ?"tawar Rani saat sudah sampai rumahnya.
"Tidak Ran, terima kasih. Lain waktu saja. Salam pada ibumu ya. Aku pulang"
"Iya Dik, hati*"
Rani segera masuk rumahnya.
"Bu..Rani pulang"ucap Rani gembira.
PRAANGG ! terdengar sebuah benda pecah Rani tau sepertinya itu karena amarah ayahnya.
"Ibu.. Ibu tidak apa*?"Rani menghampiri ibunya yang terduduk dilantai.
"Ayah jahat. Rani benci ayah."ucap Rani emosi.
"Diam kau. Dasar anak kurang ajar"ucapnya menendang kakiku lalu pergi membanting pintu.
"Ayah aku benci. aku tak akan memaafkanmu"teriak Rani.
Kini Rani menangis dan membopong ibunya ke tempat tidur. Ibunya terus saja menangis.
"Sudah bu, jangan tangisi ayah. ayah emang pantas pergi dari rumah ini."
"Rani dia itu ayahmu, tak sepantasnya kamu seperti itu"ucap ibunya.
"apa ibu bilang, ayah?"kata rani tersenyum sinis.
"Rani..uhukk uhukk"ibunya terbatuk*.Rani cemas melihat ibunya.
"Bu.. ibu minum dulu"Rani memberikan segelas air minum, diminumkannya pada ibunya. Ibunya dibiarkan istirahat. Rani menatap pilu, hanya menangis yang ia bisa.
***
Empat hari ini, ibunya terus terbaring ditempat tidurnya. Ibunya sakit keras, Rani selalu membujuk ibunya untuk berobat, tapi tak dihiraukannya.
Dan tiga hari ini, Rani tidak masuk sekolah. Bukan karena Rani bolos tapi karena belum bayar uang SPP. Rani tidak berani memberi tahu ibunya. Setiap paginya Rani selalu pamit pada ibunya untuk berangkat sekolah, namun nyatanya itu hanya alasan saja. Rani akan mengganti baju sekolahnya ketika sudah merasa jauh dari rumahnya dan kembali memakai baju sekolah saat pulang. Waktu itu Rani gunakan untuk mencari uang dengan menjajakan koran dengan berita baru disetiap lembarnya saat lampu merah menyala di jalan raya. Seperti saat ini, Rani sedang istirahat. Menghitung uang hasil kerjanya menjajakan koran. Sesekali ia meneguk ludahnya karena sengatan matahari yang membuat kerongkongannya kering. Ia usap keringat didahinya. Seketika Rani hanyut dalam lamunannya, mengeluh karena merasa Tuhan gak adil padanya.
"Rani..kau melamun saja, ntar kesambet lo."Dika datang tiba* dan membuyarkan lamunannya. Rani tersenyum.
"Ini minum. kau pasti kehausan"ucap Dika menyodorkan air mineral. Rani tersenyum menerimanya.
"Terima kasih"kata Rani.
"Sama* cantik"
Rani menoleh heran, baru kali ini sahabatnya memanggil ia dengan sebutan cantik.
"Heh ngeliatinnya biasa aja. Ntar jadi gak belajar nya?"ucap Dika.
Rani memang beruntung punya sahabat seperti Dika. Selama Rani tidak masuk sekolah, tapi Rani selalu mendapatkan pelajaran dari Dika.
"Iya jadilah, seperti biasa ya di rumahmu."ucap Rani.
"Ya sudah, ayo pulang."ajak Dika.
"Ayo"
***
"Aduh gak ngerti, Dik. Susah banget ngitungnya"keluh Rani.
"Yang mana? sini aku ajarin"Dika merapatkan posisi duduknya. Dika mulai menggoreskan penanya diatas kertas putih. Berbicara menjelaskannya, tapi Rani malah bengong. 'Dika cakep ya. Duh jadi deg*an gini'batin Rani.
Dika yang merasa tak dihiraukannya, mencubit hidung Rani yang memang tak mancung itu. Alhasil Rani terperanjat kaget dan cemberut mengelus hidungnya.
"Kamu ini mau belajar atau mau liatin aku"ucap Dika. Rani tersipu malu.
"Dik, aku mau pulang. Perasaan aku gak enak"
"Ya udah ayo, aku antar. Aku mau menjenguk ibumu"
Tak butuh waktu lama menuju rumah Rani. Setiba di rumah, Rani bergegas masuk. Tujuan utamanya masuk kamar ibunya, ia ingin memastikan kalau ibunya baik* saja. Perlahan Rani mendekati ibunya yang tertidur.
"Bu.."panggil Rani pelan.
"Bu..Ibu..Dika datang"Tak ada sahutan, kini Rani cemas. Ia menggoncangkan tubuh ibunya, tetap saja tak bangun.
"Ibu, jangan tinggalin Rani bu."histeris Rani.
Dika mendekat, memeluk Rani. Ia mengerti bagaimana rasanya ditinggal orang tersayang.
"Yang sabar ya Ran. Aku turut berduka cita"
***
Seusai pemakaman, Rani sepertinya enggan beranjak dari kuburan iburan. Ia terus memeluk nisan dan menangis.
"Ayo Ran, kita pulang."Ajak Dika. Rani mengangguk.
Malam ini Rani kesepian, hanya tangisan yang terus menemaninya. Derasnya hujan seakan mengerti bagaimana rasa sakitnya ditinggal orang tercinta. Rani berbaring di tempat tidurnya, tempat biasa Rani tidur bersama ibunya. Masih sangat sulit untuk Rani bisa percaya dengan kenyataan pahit ini, sakit bahkan sangat sakit.
"Ibu semoga kau tenang di alam sana"batin Rani.
***
Empat tahun kemudian, Rani telah sukses menjadi seorang dokter anak begitupun dengan Dika. Dika menjadi seorang polisi. Selama mereka berjuang menggapai cita*nya, tak pernah sedikit pun mereka berjauhan. Meskipun kesibukan selalu menghampiri mereka, tetapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk bertemu, jalan*, bercanda seperti dulu.
"Rani.."panggil Dika.
"Hemm iyaa..kenapa Dika?"
"Sekarang kan kita sudah pada sukses ni"ucap Dika.
"Lalu ? apa ada masalah?"tanya Rani tak mengerti.
"Tentu. Ran, Maukah kau menikah denganku?"ucap Dika serius, bertekuk lutut dihadapan Rani seraya menyodorkan kotak merah berbentuk hati yang berisi cincin. Rani terperanjat kaget, ia tak percaya bahwa Dika akan melakukan itu. Lama mereka terdiam sampai Dika merasa bersalah.
"Maafkan aku Ran, mungkin ini memang terlalu cepat. Tapi jujur Ran, aku sangat mencintaimu. Sejak kita kelas XII SMA, aku sudah niat ingin menjadikanmu istriku. Atau mungkin kau mencintaku. Aku tak akan memaksamu untuk menerimaku. Maafkan aku"ucap Dika panjang lebar. Rani hanya terdiam menunduk, ia menangis. Rani menangis bahagia.
"Dika aku mencintaimu.. aku mau menjadi istrimu. mendampingimu hingga maut memisahkan"
"Terima kasih. I Love You"ucap Dika.
"I Love You too"balas Rani. Dika memasangkan cincin itu pada jari manis Rani. Keduanya tersenyum bahagia.
***
Sore ini angin berhembus menerpa rambut Rani. Di bangku taman kota ini Rani nampaknya gelisah. Sudah satu jam lebih ia menunggu Dika kekasihnya. Dika sudah berjanji akan menemaninya jalan* sore ini. Berkali* ia mencoba menghubungi nope Dika, namun tak ada jawaban. Rani mulai merasa bosan, ia bangkit dan melirik kiri kanan berharap Dika muncul. Ia mendengus kesal lalu pergi.
Sementara itu Dika datang, namun ia tak menemukan Rani. Tanpa berpikir lebih lama Dika segera mencari, ia begitu yakin bahwa Rani belum jauh dari taman ini.
***
Rani kecewa. Ia terus berjalan hingga ia melihat orang sedang berkumpul. Ia penasaran dan menghampirinya. Ternyata ada sirkus monyet, ia pun tertarik. Sesekali Rani bertepuk tangan melihat tingkah laku si monyet. Seketika ia lupa dengan Dika. Pertunjukan selesai, ia mengambil uang lembaran seratus ribu dan hendak memberikannya pada tukang sirkus. Tapi betapa kagetnya Rani saat melihat sosok ayahnya berdiri dihadapannya. Ya tukang sirkus itu ayahnya.
Rani hendak pergi namun berhasil dicegah ayahnya.
"Lepaskan tanganku. Aku tak mengenal anda"ucap Rani berontak.
"Rani.. ini ayah nak"ucap ayahnya melepaskan genggamannya.
"Ayah ! aku tak punya ayah."tegas Rani. Ia tak peduli dengan orang* disana melihatnya. Benci itu masih ada dalam hatinya.
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah."ucap ayahnya menangis.
"Sudah ku bilang, aku tak mengenalmu dan aku tak punya ayah."kata Rani lalu pergi. Hatinya terluka, sebenarnya ia pun tak tega melihat ayahnya.
"Rani, tunggu nak. Ayah minta maaf"ayahnya berteriak dan terus mengejar Rani.
BRAAKK ! sebuah mobil mewah menabrak tubuh ayahnya. Rani menoleh.
"Ayah.."teriak Rani menghampiri. Dipangkulah ayahnya.
"Ayah. .ayah jangan pergi. Maafkan aku"ucap Rani menangis. Ia menyesal.
"Maafkan ayah nak. Maafkan ayah"ucap ayahnya terbata*.
"Aku memaafkanmu. ayah ! jangan tinggalin Rani. Rani sayang ayah"seketika ayahnya menghembuskan napas terakhir.
"Ayaaaahhh"Rani berteriak dan menangis. Dika yang mendengar teriakan itu mencarinya dan Dika melihat orang* berkerumun di jalanan. Ia menghampirinya dan menembus masuk ke dalam. Ia melihat Rani menangis. Dika menghampiri Rani dan memeluknya.
"Ayah Dik, ayah meninggal. Ini semua salahku"isak Rani dalam pelukan Dika.
"Ini sudah takdir Tuhan Ran, ikhlaskan ayahmu dan do'akan semoga tenang di alam sana"kata Dika mencoba menenangkan ,tapi Rani terus saja menangis dan memanggil nama 'ayah'.

No comments:

Post a Comment