Raviansyah, seorang laki-laki yang baik, keren, pintar. perfect lha. Banyak orang mengaguminya, namun ia selalu bersikap tak peduli. Satu minggu yang lalu kecelakaan terjadi membuat orang tua Ravi harus pergi selama-lamanya, Ravi jadi pendiam. Ravi selalu merenung meratapi kesedihannya, adiknya yang masih smp terpaksa dititipkannya pada Bi Nisa,adik ibunya di Jakarta karena Ravi sendiri yang sibuk bekerja melanjutkan usaha ayahnya di Bandung. Awalnya Ravi menolak, namun wanita cantik yang dianggap Ravi bidadari memberikan motivasi untuknya. Ravi bersedia. Namanya Bintang. Bidadari Ravi sejak kecil yang selalu melengkapi harinya.
***
"Hai Rav"Bintang menyadarkan Ravi dari lamunannya.
"Ada apa?"tanya Ravi menoleh.
"Kau teringat orang tuamu lagi.?"tanya balik Bintang. Ravi tersenyum kecut memandang langit yang nampaknya akan segera turun hujan.
"Kau harus kuat Rav, orang tuamu pasti sedih ngeliat anaknya yang kece badai ini sedih, cengeng banget si jadi cowok"celoteh Bintang
"sembarangan, emangnya kamu . yang ditinggalin bentar langsung nangis"sindir Ravi. Bintang terlihat cemberut tak terima.
"kamu kalau cemberut keliatan cantiknya"goda Ravi
"Raavii..."Bintang kesal dan mencubit lengan Ravi.
"Aw aw .. ampun deh ampun"Ravi meringis kesakitan.
"Makanya jangan berani sama aku. Awas aja ni"ancam Bintang mengepalkan tangannya. Ravi terkekeh melihatnya. Tiba-tiba wajah Bintang terlihat pucat, Ravi pun khawatir.
"Bintang, kau tak apa?"tanya Ravi cemas
"aku tak apa Rav, hanya pusing sedikit."ucap Bintang memastikan
"aku antar pulang ya"Bintang mengangguk mengiyakan permintaan Ravi.
***
"Hai Rav"Bintang menyadarkan Ravi dari lamunannya.
"Ada apa?"tanya Ravi menoleh.
"Kau teringat orang tuamu lagi.?"tanya balik Bintang. Ravi tersenyum kecut memandang langit yang nampaknya akan segera turun hujan.
"Kau harus kuat Rav, orang tuamu pasti sedih ngeliat anaknya yang kece badai ini sedih, cengeng banget si jadi cowok"celoteh Bintang
"sembarangan, emangnya kamu . yang ditinggalin bentar langsung nangis"sindir Ravi. Bintang terlihat cemberut tak terima.
"kamu kalau cemberut keliatan cantiknya"goda Ravi
"Raavii..."Bintang kesal dan mencubit lengan Ravi.
"Aw aw .. ampun deh ampun"Ravi meringis kesakitan.
"Makanya jangan berani sama aku. Awas aja ni"ancam Bintang mengepalkan tangannya. Ravi terkekeh melihatnya. Tiba-tiba wajah Bintang terlihat pucat, Ravi pun khawatir.
"Bintang, kau tak apa?"tanya Ravi cemas
"aku tak apa Rav, hanya pusing sedikit."ucap Bintang memastikan
"aku antar pulang ya"Bintang mengangguk mengiyakan permintaan Ravi.
Ravi mengantarkan Bintang pulang ke rumahnya.
"Ya Alloh, non kenapa lagi?"tanya Bi Ivah, pembantu di rumah Bintang saat melihat Ravi membopong tubuh Bintang masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa* Bi, gak usah khawatir"jawab Bintang.
Ravi membantu Bintang duduk di sofa.
"Pasti non Bintang gak makan obatnya"tebak Bi Ivah
"Aku lupa, Bi"jawab Bintang polos.
Ravi memandang Bintang heran.
"Bibi ambil obatnya dulu ya non"Bi Ivah berlalu.
Kini hanya ada Ravi dan Bintang yang saling membungkam mulut. Bintang yang tak menginginkan Ravi tau tentang penyakit yang dideritanya, terus berusaha tegar dihadapan Ravi.
"Bintang.."ucap Ravi memecah keheningan. Bintang hanya menoleh sebentar lalu membuang muka, ia tak sanggup menatap mata Ravi.
"kau sakit ?"Bintang menggeleng
"tapi wajahmu pucat sekali"Sekali lagi Bintang menggeleng, ia menahan air matanya.
Derttt..
hp milik Ravi bergetar ada telpon. Ravi menjauh dari Bintang. Bintang menatapnya nanar, ada keganjalan di hatinya. Ravi yang terlihat serius berbicara dengan si penelepon membuat Bintang penasaran. Ravi menghampiri Bintang dengan wajah cemas. Bintang mengerutkan dahi keheranan.
"Bintang, aku pamit pulang. Jaga kesehatanmu ya. Aku menyayangimu"belum juga Bintang bicara, Ravi sudah pergi.
***
Ravi mengemudikan mobilnya secepat mungkin menuju rumah Bibinya di Jakarta. Setibanya di rumah Bi Nisa Ravi segera menemui adiknya di kamar lantai 2.
Ceklek.. pintu dibuka Ravi, ia melihat adiknya terbujur kaku di tempat tidurnya. Bibi Ravi menangis disamping Tiwi,adiknya Ravi.
"Ya Alloh, non kenapa lagi?"tanya Bi Ivah, pembantu di rumah Bintang saat melihat Ravi membopong tubuh Bintang masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa* Bi, gak usah khawatir"jawab Bintang.
Ravi membantu Bintang duduk di sofa.
"Pasti non Bintang gak makan obatnya"tebak Bi Ivah
"Aku lupa, Bi"jawab Bintang polos.
Ravi memandang Bintang heran.
"Bibi ambil obatnya dulu ya non"Bi Ivah berlalu.
Kini hanya ada Ravi dan Bintang yang saling membungkam mulut. Bintang yang tak menginginkan Ravi tau tentang penyakit yang dideritanya, terus berusaha tegar dihadapan Ravi.
"Bintang.."ucap Ravi memecah keheningan. Bintang hanya menoleh sebentar lalu membuang muka, ia tak sanggup menatap mata Ravi.
"kau sakit ?"Bintang menggeleng
"tapi wajahmu pucat sekali"Sekali lagi Bintang menggeleng, ia menahan air matanya.
Derttt..
hp milik Ravi bergetar ada telpon. Ravi menjauh dari Bintang. Bintang menatapnya nanar, ada keganjalan di hatinya. Ravi yang terlihat serius berbicara dengan si penelepon membuat Bintang penasaran. Ravi menghampiri Bintang dengan wajah cemas. Bintang mengerutkan dahi keheranan.
"Bintang, aku pamit pulang. Jaga kesehatanmu ya. Aku menyayangimu"belum juga Bintang bicara, Ravi sudah pergi.
***
Ravi mengemudikan mobilnya secepat mungkin menuju rumah Bibinya di Jakarta. Setibanya di rumah Bi Nisa Ravi segera menemui adiknya di kamar lantai 2.
Ceklek.. pintu dibuka Ravi, ia melihat adiknya terbujur kaku di tempat tidurnya. Bibi Ravi menangis disamping Tiwi,adiknya Ravi.
"Tiwi..."panggil Ravi, namun tak ada respon. Ravi memegang tangan Tiwi. Dingin, nadinya tak berdenyut lagi dan napasnya hilang. Ravi terlihat sedih.
"Apa yang terjadi pada Tiwi?"teriak Ravi emosi. Bibinya hanya terus menangis, beliau berusaha menenangkan Ravi.
"Rav, tenang. kendalikan emosimu. kamu harus kuat, ini sudah takdir Tuhan. Tiwi tak pernah sakit, tadi sepulang sekolah dia langsung demam dan menyebut nama ayah dan ibumu. Bibi akan membawanya ke RS namun Tiwi menolak, ia ingin bertemu denganmu. Tapi..."
"Tapi apa Bi ?"
"Tiwi menghembuskan napas terakhirnya sebelum kamu kesini"ucap Bi Nisa.
Betapa sakit hati Ravi, ia harus kehilangan orang yang disayanginya. Belum juga kesedihan atas kepergian orang tuanya terobati, ia harus merasakan kesedihan yang lebih sakit. Ravi mendekap tubuh adiknya untuk yang terakhir kalinya. Air matanya tak bisa disembunyikan lagi, ia menangis.
"Semoga kau tenang disana dan bertemu dengan ayah dan ibu"ucap Ravi berbisik ditelinga Tiwi.
***
Di Bandung, Bintang merindukan sosok Ravi. Dia gelisah, sudah dua minggu ini Ravi tak memberi kabar, nomer handphone nya tidak aktif. Sakit kanker yang terus menyerang Bintang seakan tak ingin mengalah. Bintang terus berbaring di tempat pasien dengan beberapa alat kedokteran. Bintang selalu menunggu dan menunggu kedatangan Ravi. Sedangkan Ravi, di Jakarta mencari hiburan untuk menghilangkan kesedihannya.
***
"Apa yang terjadi pada Tiwi?"teriak Ravi emosi. Bibinya hanya terus menangis, beliau berusaha menenangkan Ravi.
"Rav, tenang. kendalikan emosimu. kamu harus kuat, ini sudah takdir Tuhan. Tiwi tak pernah sakit, tadi sepulang sekolah dia langsung demam dan menyebut nama ayah dan ibumu. Bibi akan membawanya ke RS namun Tiwi menolak, ia ingin bertemu denganmu. Tapi..."
"Tapi apa Bi ?"
"Tiwi menghembuskan napas terakhirnya sebelum kamu kesini"ucap Bi Nisa.
Betapa sakit hati Ravi, ia harus kehilangan orang yang disayanginya. Belum juga kesedihan atas kepergian orang tuanya terobati, ia harus merasakan kesedihan yang lebih sakit. Ravi mendekap tubuh adiknya untuk yang terakhir kalinya. Air matanya tak bisa disembunyikan lagi, ia menangis.
"Semoga kau tenang disana dan bertemu dengan ayah dan ibu"ucap Ravi berbisik ditelinga Tiwi.
***
Di Bandung, Bintang merindukan sosok Ravi. Dia gelisah, sudah dua minggu ini Ravi tak memberi kabar, nomer handphone nya tidak aktif. Sakit kanker yang terus menyerang Bintang seakan tak ingin mengalah. Bintang terus berbaring di tempat pasien dengan beberapa alat kedokteran. Bintang selalu menunggu dan menunggu kedatangan Ravi. Sedangkan Ravi, di Jakarta mencari hiburan untuk menghilangkan kesedihannya.
***
Malam ini hujan turun, seakan mengerti apa yang dirasakan Bintang saat ini. Pintu kamar dimana Bintang dirawat dibuka seseorang, Bintang berharap yang datang itu Ravi, namun harapannya tak nyata.
"Maama.."batin Bintang
"Sayang.. makan dulu ya"tawar mama Bintang, namun Bintang menolak.
"Maa.. Ravi mana ?"tanya Bintang.
Tak ada jawaban.
"Maa aku ingin menulis surat untuk Ravi"pinta Bintang. Mamanya mengangguk dan memberikan kertas juga bolpoin. Perlahan Bintang menggoreskan bolpoin itu di atas kertas putih. Setelah selesai ia menghela napas.
"Maa jika Ravi datang,berikan surat ini padanya"ucap Bintang menyerahkan surat itu pada mamanya.
"Aku sudah tak tahan lagi maa, aku sayang mama"lanjut Bintang, matanya menutup untuk selamanya. Mama Bintang menangis histeris.
"Maama.."batin Bintang
"Sayang.. makan dulu ya"tawar mama Bintang, namun Bintang menolak.
"Maa.. Ravi mana ?"tanya Bintang.
Tak ada jawaban.
"Maa aku ingin menulis surat untuk Ravi"pinta Bintang. Mamanya mengangguk dan memberikan kertas juga bolpoin. Perlahan Bintang menggoreskan bolpoin itu di atas kertas putih. Setelah selesai ia menghela napas.
"Maa jika Ravi datang,berikan surat ini padanya"ucap Bintang menyerahkan surat itu pada mamanya.
"Aku sudah tak tahan lagi maa, aku sayang mama"lanjut Bintang, matanya menutup untuk selamanya. Mama Bintang menangis histeris.
Tiga minggu, Ravi di Jakarta. Tiba-tiba Ravi merindukan Bintang. Ia kembali ke Bandung sore ini juga. Tiba di rumah Bintang, ia berpapasan dengan mama Bintang yang sedang duduk di bangku taman. Ravi menghampiri mama Bintang.
"Siang tante"sapa Ravi
"eh nak Ravi, siang juga. kemana saja kamu?"tanya mama Bintang
"Saya dari Jakarta, tiga minggu yang lalu adik saya meninggal."jawab Ravi mencoba tegar.
"Innalillahi, nak Ravi yang sabar ya. Tante turut berduka cita"ucap mama Bintang menepuk bahu Ravi, ia terlihat sedih.
"Makasih tante, oh ya Bintangnya kemana?"Ravi celingukan mencari Bintang. Mama Ravi tak menjawab, ia hanya memberikan surat. Ravi menerimanya. Ravi membuka surat itu, dan perlahan membacanya.
"Siang tante"sapa Ravi
"eh nak Ravi, siang juga. kemana saja kamu?"tanya mama Bintang
"Saya dari Jakarta, tiga minggu yang lalu adik saya meninggal."jawab Ravi mencoba tegar.
"Innalillahi, nak Ravi yang sabar ya. Tante turut berduka cita"ucap mama Bintang menepuk bahu Ravi, ia terlihat sedih.
"Makasih tante, oh ya Bintangnya kemana?"Ravi celingukan mencari Bintang. Mama Ravi tak menjawab, ia hanya memberikan surat. Ravi menerimanya. Ravi membuka surat itu, dan perlahan membacanya.
To : Ravi tersayang
Hai, apa kabar ? semoga kau baik-baik saja. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku telah bahagia bertemu dengan Tuhan.
Selama ini kau kemana? kau menghilang, rasa rinduku lebih menyakitkan daripada sakit kankerku ini. Aku merindukanmu.
Maafkan aku yang tak pernah menceritakan tentang penyakitku.
Andaikan aku diberi kesempatan untuk hidup lebih lama, aku menginginkan kau menjadi imamku. namun nyatanya impian itu harus ku kubur dalam-dalam.
Ravi, bila ku tak ada lagi di dunia ini tetaplah tersenyum untukku. Aku sangat mencintaimu.
Bintang.
Tes..tes..tes, air mata Ravi jatuh membasahi pipinya. Ia seakan tak percaya, semua orang yang disayanginya pergi meninggalkanya. 'Tuhan.. apa salahku hingga Kau ambil mereka dariku ? kenapa ?'jerit hati Ravi.
betapa hancur hati, hilang gairah hidup, serasa hampa selimuti di jiwa, tak ada lagi tawa, dan tak ada ceria, semua hilang terkubur dalam duka, dia kini telah pergi jauh, terbang tinggi tinggalkan ku disini, Tuhan Engkau tau aku mencintainya, dan tak ada yang bisa mengganti dirinya, Tuhan hanya dia yang selalu ada, dalam anganku dalam benakku.
Blackout_Selalu Ada
Hai, apa kabar ? semoga kau baik-baik saja. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku telah bahagia bertemu dengan Tuhan.
Selama ini kau kemana? kau menghilang, rasa rinduku lebih menyakitkan daripada sakit kankerku ini. Aku merindukanmu.
Maafkan aku yang tak pernah menceritakan tentang penyakitku.
Andaikan aku diberi kesempatan untuk hidup lebih lama, aku menginginkan kau menjadi imamku. namun nyatanya impian itu harus ku kubur dalam-dalam.
Ravi, bila ku tak ada lagi di dunia ini tetaplah tersenyum untukku. Aku sangat mencintaimu.
Bintang.
Tes..tes..tes, air mata Ravi jatuh membasahi pipinya. Ia seakan tak percaya, semua orang yang disayanginya pergi meninggalkanya. 'Tuhan.. apa salahku hingga Kau ambil mereka dariku ? kenapa ?'jerit hati Ravi.
betapa hancur hati, hilang gairah hidup, serasa hampa selimuti di jiwa, tak ada lagi tawa, dan tak ada ceria, semua hilang terkubur dalam duka, dia kini telah pergi jauh, terbang tinggi tinggalkan ku disini, Tuhan Engkau tau aku mencintainya, dan tak ada yang bisa mengganti dirinya, Tuhan hanya dia yang selalu ada, dalam anganku dalam benakku.
Blackout_Selalu Ada
No comments:
Post a Comment