Dan bila ku teringat akan tentangmu, hanya menangis yang ku bisa. Perih, sakit, benci semuanya jadi satu. Dasar bodoh ! umpatku dalam hati. Meski kejadian itu sudah berlalu, namun tetap saja terus membuatku terpuruk.
Enam bulan yang lalu, tepat setelah hari jadi yg ke 1th. Dino, kekasihku yang selalu aku rindu dan ku sayang memutuskan cintaku. Entah apa yang terjadi, dia tiba* memutuskannya dan pergi tak kembali. Padahal sebelumnya tak ada percecokan antara kita. Hanya saja kita jarang komunikasi, tapi itu kan karena hapenya rusak dan selalu sibuk dengan pekerjaan. Meski begitu aku tak mempermasalahkannya.Arggh sudahlah, bikin pusing saja. Setelah kelelahan menangis, aku tertidur lelap.
***
Namaku Vira Eprilia, dan aku mengenal Dino saat aku menghadiri acara ulang tahun temanku, Lerisa. Memang aku akui, saat pertama kali aku melihat Dino aku terpesona. Namun segera aku sadar saat ku tahu Dia menatapku dan tersenyum. Oh My God ! aku tak tahan dengan semua itu, aku segera menghindar darinya.
Sejak pertemuan itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya sampai suatu waktu ada yang menelponku mengaku Dino. Awalnya iya aku tak percaya, tapi setelah Lerisa bercerita, aku pun percaya.
Enam bulan yang lalu, tepat setelah hari jadi yg ke 1th. Dino, kekasihku yang selalu aku rindu dan ku sayang memutuskan cintaku. Entah apa yang terjadi, dia tiba* memutuskannya dan pergi tak kembali. Padahal sebelumnya tak ada percecokan antara kita. Hanya saja kita jarang komunikasi, tapi itu kan karena hapenya rusak dan selalu sibuk dengan pekerjaan. Meski begitu aku tak mempermasalahkannya.Arggh sudahlah, bikin pusing saja. Setelah kelelahan menangis, aku tertidur lelap.
***
Namaku Vira Eprilia, dan aku mengenal Dino saat aku menghadiri acara ulang tahun temanku, Lerisa. Memang aku akui, saat pertama kali aku melihat Dino aku terpesona. Namun segera aku sadar saat ku tahu Dia menatapku dan tersenyum. Oh My God ! aku tak tahan dengan semua itu, aku segera menghindar darinya.
Sejak pertemuan itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya sampai suatu waktu ada yang menelponku mengaku Dino. Awalnya iya aku tak percaya, tapi setelah Lerisa bercerita, aku pun percaya.
Siang malam terus berganti hingga kini bulan berganti bulan. Kedekatanku dengan Dino membuahkan cinta. Selama setengah tahun ini, aku masih berbahagia dengannya. Walaupun tak sering bertemu namun dia selalu pengertian dengan selalu menelponku. Ya jarak yang memisahkan. Dia di kota seberang sana sedang mengadu nasib. Terkadang aku iri pada mereka yang selalu bersama, malam mingguan. Namun aku harus mengerti tentangnya.
"Hape kok diliatin terus"ucap Lerisa mencolek lenganku. Aku hanya tersenyum menolehnya dan menyimpan hape ke dalam tas.
"Akhir* ini Dino berubah"ucapku lirih.
"Kenapa?"
"Entahlah, sekarang dia jarang menelponku. Dia seperti menjaga jarak dariku"
"Hemm yang sabar yah. Aku yakin kamu itu wanita yang kuat menghadapi ini. Semangat dong"kata Lerisa tersenyum.
***
Malam minggu yang malang. Lagi* aku sendirian. Waktu sudah menyuruhku untuk tertidur namun aku masih tetap setia menatap layar hape. Menunggu Dino menghubungiku, aku rindu padanya. Sudah berulang kali kucoba menghubunginya namun tak ada respon.
'Mungkin dia sibuk'batinku.
***
Bukan karena aku sudah tak mencintainya tapi aku lelah. Ya aku lelah dengan semua ini. Aku merasa tersiksa, hubunganku dengan Dino sudah tak jelas. Berminggu* tak ada kabar dan itu membuatku harus menangis saat merindukannya.
Beribu tanggapan tentang Dino membuat telingaku panas mendengarnya. Namun aku tak menghiraukannya karena aku yakin Dino akan kembali padaku dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sering ku mencoba untuk melupakannya, berpaling darinya namun gagal. Aku tak bisa. Sungguh cintaku hanya untuknya.
"Hape kok diliatin terus"ucap Lerisa mencolek lenganku. Aku hanya tersenyum menolehnya dan menyimpan hape ke dalam tas.
"Akhir* ini Dino berubah"ucapku lirih.
"Kenapa?"
"Entahlah, sekarang dia jarang menelponku. Dia seperti menjaga jarak dariku"
"Hemm yang sabar yah. Aku yakin kamu itu wanita yang kuat menghadapi ini. Semangat dong"kata Lerisa tersenyum.
***
Malam minggu yang malang. Lagi* aku sendirian. Waktu sudah menyuruhku untuk tertidur namun aku masih tetap setia menatap layar hape. Menunggu Dino menghubungiku, aku rindu padanya. Sudah berulang kali kucoba menghubunginya namun tak ada respon.
'Mungkin dia sibuk'batinku.
***
Bukan karena aku sudah tak mencintainya tapi aku lelah. Ya aku lelah dengan semua ini. Aku merasa tersiksa, hubunganku dengan Dino sudah tak jelas. Berminggu* tak ada kabar dan itu membuatku harus menangis saat merindukannya.
Beribu tanggapan tentang Dino membuat telingaku panas mendengarnya. Namun aku tak menghiraukannya karena aku yakin Dino akan kembali padaku dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sering ku mencoba untuk melupakannya, berpaling darinya namun gagal. Aku tak bisa. Sungguh cintaku hanya untuknya.
Hari ini aku dan Lerisa sudah berjanji akan ke rumah Eca untuk mengerjakan tugas kuliah bersama.
"Vir bagaimana Dino?"tanya Eca.
"Baik* saja."jawabku singkat.
"Vira itu memang hebat. Selama ini Vira selalu sabar dan setia padanya meskipun Dino tak pernah mengabarinya. Andaikan aku itu kamu, Vir. Maka aku tak akan mau menunggunya yang sudah tak jelas begitu. Aku salut padamu"ucap Lerisa panjang lebar dan aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Sudah* kita kembali mengerjakan tugasnya, hari sudah sore"ucap Lerisa lagi.
"What?"ucap Eca kaget. Aku dan Lerisa meliriknya heran.
"kenapa Ca?"tanya Lerisa.
"Lihat ini lihat"teriak Eca riweuh menunjuk* laptopnya. Aku dan Lerisa menghampirinya dan melihat laptopnya. Aku hanya bisa diam dan mencoba menahan tangis.
"Kamu gak apa* Vir?"tanya Lerisa menatapku. Aku menggeleng.
"Lihat Vir, Dino itu gak pantes buat kamu. Putuskan dia, aku gak mau liat kamu sedih."ucap Eca membuatku menitikkan air mata. Segera ku menghapusnya.
"Maafkan aku Vir"tambah Eca.
"Sudah jangan menangis. Eca benar, Dino gak pantas buat kamu Vir. Nyatanya dia selingkuhin kamu. Dia berani mampangin status berpacaran dengan wanita lain."kata Lerisa. Aku merasakan duri* tajam menusuk hatiku membuat ku harus meringis kesakitan. Tuhan apakah ini jawaban atas semua kesabaranku? Sakit Tuhan. Aku menangis sesenggukan dalam pelukan Lerisa,sahabatku.
"Vir bagaimana Dino?"tanya Eca.
"Baik* saja."jawabku singkat.
"Vira itu memang hebat. Selama ini Vira selalu sabar dan setia padanya meskipun Dino tak pernah mengabarinya. Andaikan aku itu kamu, Vir. Maka aku tak akan mau menunggunya yang sudah tak jelas begitu. Aku salut padamu"ucap Lerisa panjang lebar dan aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Sudah* kita kembali mengerjakan tugasnya, hari sudah sore"ucap Lerisa lagi.
"What?"ucap Eca kaget. Aku dan Lerisa meliriknya heran.
"kenapa Ca?"tanya Lerisa.
"Lihat ini lihat"teriak Eca riweuh menunjuk* laptopnya. Aku dan Lerisa menghampirinya dan melihat laptopnya. Aku hanya bisa diam dan mencoba menahan tangis.
"Kamu gak apa* Vir?"tanya Lerisa menatapku. Aku menggeleng.
"Lihat Vir, Dino itu gak pantes buat kamu. Putuskan dia, aku gak mau liat kamu sedih."ucap Eca membuatku menitikkan air mata. Segera ku menghapusnya.
"Maafkan aku Vir"tambah Eca.
"Sudah jangan menangis. Eca benar, Dino gak pantas buat kamu Vir. Nyatanya dia selingkuhin kamu. Dia berani mampangin status berpacaran dengan wanita lain."kata Lerisa. Aku merasakan duri* tajam menusuk hatiku membuat ku harus meringis kesakitan. Tuhan apakah ini jawaban atas semua kesabaranku? Sakit Tuhan. Aku menangis sesenggukan dalam pelukan Lerisa,sahabatku.
"Sudah Vir, aku yakin suatu saat nanti kamu dapat yang lebih baik dari Dino."kata Eca.
"Ayo pulang, Vir. Biar aku antar."ajak Lerisa. Aku mengangguk mengiyakan.
***
"Le kita mampir dulu ke taman kota ya"ucapku pada Lerisa dan Lerisa mengangguk.
Setiba di taman kota, aku menghela napas kuat*. Betapa aku terkejutnya saat aku melihat seseorang yang tak asing lagi bagiku. Ya dia Dino, sejak kapan dia disini, mengapa dia tak menemuiku. Aku tertangkap basah menatapnya, segera ku palingkan wajahku dan berlalu.
"Sayang tunggu"ucap seseorang dari belakangku meraih tanganku. Aku menolehnya.
"Siapa kamu?"tanyaku berat.
"Ini aku Dino, kekasihmu.Aku merindukanmu"ucap Dino mencoba merangkulku namun aku menghindar.
"Cukup Din, kamu bukan kekasihku lagi. Setelah aku tau kamu itu menghianatiku. Kamu selingkuh iya kan?"ucapku. Dino hanya diam membisu.
"Kenapa Din? Kenapa kamu gak jujur ke aku kalau kamu gak cinta lagi sama aku? Selama ini aku selalu menunggu kamu, tapi kamu malah sama orang lain."ucapku menangis. Sungguh, aku tak sanggup lagi menahan apa yang kurasakan selama ini. Sangat kecewa aku mengetahui ini semua.
"Maafkan aku Vir"kata Dino mencoba menghapus air mataku namun aku menepisnya.
"Maafkan aku Vir, aku mencintainya"
PLAKKK ! satu tamparan untuk Dino. Mengapa dia mengatakannya padaku, tak taukah dia bagaimana hatiku saat ini.
"Aku kecewa sama kamu Din, aku benci. Sangat benci. Makasih udah mau jadi penghuni hatiku meskipun akhirnya begini."ucapku pergi.
"Maafkan Vira"kata Dino setengah berteriak.
"Ayo pulang, Vir. Biar aku antar."ajak Lerisa. Aku mengangguk mengiyakan.
***
"Le kita mampir dulu ke taman kota ya"ucapku pada Lerisa dan Lerisa mengangguk.
Setiba di taman kota, aku menghela napas kuat*. Betapa aku terkejutnya saat aku melihat seseorang yang tak asing lagi bagiku. Ya dia Dino, sejak kapan dia disini, mengapa dia tak menemuiku. Aku tertangkap basah menatapnya, segera ku palingkan wajahku dan berlalu.
"Sayang tunggu"ucap seseorang dari belakangku meraih tanganku. Aku menolehnya.
"Siapa kamu?"tanyaku berat.
"Ini aku Dino, kekasihmu.Aku merindukanmu"ucap Dino mencoba merangkulku namun aku menghindar.
"Cukup Din, kamu bukan kekasihku lagi. Setelah aku tau kamu itu menghianatiku. Kamu selingkuh iya kan?"ucapku. Dino hanya diam membisu.
"Kenapa Din? Kenapa kamu gak jujur ke aku kalau kamu gak cinta lagi sama aku? Selama ini aku selalu menunggu kamu, tapi kamu malah sama orang lain."ucapku menangis. Sungguh, aku tak sanggup lagi menahan apa yang kurasakan selama ini. Sangat kecewa aku mengetahui ini semua.
"Maafkan aku Vir"kata Dino mencoba menghapus air mataku namun aku menepisnya.
"Maafkan aku Vir, aku mencintainya"
PLAKKK ! satu tamparan untuk Dino. Mengapa dia mengatakannya padaku, tak taukah dia bagaimana hatiku saat ini.
"Aku kecewa sama kamu Din, aku benci. Sangat benci. Makasih udah mau jadi penghuni hatiku meskipun akhirnya begini."ucapku pergi.
"Maafkan Vira"kata Dino setengah berteriak.
Aku tak menghiraukannya, yang aku inginkan hanyalah pergi. Pergi sejauh mungkin.
"Vir kamu kenapa?"cegat Lerisa.
"Antar aku pulang Le"ucapku segera masuk ke dalam mobil Lerisa.
Lerisa mengemudikan mobilnya namun aku masih menangis. Masih tak terbayangkan olehku bahwa semuanya akan seperti ini.
"Menangislah Vir, jika itu yang bisa membuat hatimu tenang"ucap Lerisa saat sudah sampai di depan rumahku.
"Le apa emang harus seperti ini kisah cintaku? Hatiku sakit Le"
"Tuhan pasti punya rencana yang baik atas semua ini. Percaya itu Vir"
"Aku ingin ke Bandung Le."ucapku keluar mobil dan segera masuk ke kost'an. Lerisa mengikutiku.
"Itu berarti kamu juga akan pindah kuliah"kata Lerisa lirih. Sejenak aku menghela napas dan segera membereskan semua barang*ku, kecuali photo itu. Photo aku bersama Dino. Aku membantingnya dan kaca pigura itu pecah.
"Maafkan aku Le"ucapku.
"Ya sudah, biar aku antar ke stasiunnya"
"Makasih Le"
"Vir kamu kenapa?"cegat Lerisa.
"Antar aku pulang Le"ucapku segera masuk ke dalam mobil Lerisa.
Lerisa mengemudikan mobilnya namun aku masih menangis. Masih tak terbayangkan olehku bahwa semuanya akan seperti ini.
"Menangislah Vir, jika itu yang bisa membuat hatimu tenang"ucap Lerisa saat sudah sampai di depan rumahku.
"Le apa emang harus seperti ini kisah cintaku? Hatiku sakit Le"
"Tuhan pasti punya rencana yang baik atas semua ini. Percaya itu Vir"
"Aku ingin ke Bandung Le."ucapku keluar mobil dan segera masuk ke kost'an. Lerisa mengikutiku.
"Itu berarti kamu juga akan pindah kuliah"kata Lerisa lirih. Sejenak aku menghela napas dan segera membereskan semua barang*ku, kecuali photo itu. Photo aku bersama Dino. Aku membantingnya dan kaca pigura itu pecah.
"Maafkan aku Le"ucapku.
"Ya sudah, biar aku antar ke stasiunnya"
"Makasih Le"
Lima belas menit aku sudah sampai di stasiun dan segera membeli tiket jurusan Yogyakarta-Bandung. Aku duduk di bangku dan Lerisa duduk disampingku. Lama aku dan Lerisa saling berdiam diri sampai pengumuman keberangkatan kereta jurusan Yogyakarta-Bandung mengingatkan untukku segera bersiap*.
"Jangan pernah lupakan aku ya Vir. Semoga kamu menemukan kebahagianmu disana."ucap Lerisa dengan mata berbinar*.
"Aku tak akan pernah melupakanmu, kamu sahabatku. Aku banyak hutang budi padamu. Maafkan aku, aku belum bisa membalasnya"
"Lupakan itu Vir, kita sahabat. Iya kan?" Aku mengangguk dan ku peluk Lerisa.
"Aku pasti akan merindukanmu Le"ucapku melepaskan pelukannya.
Tuuutttt... Kereta jurusan Yogyakarta-Bandung berhenti tepat dihadapanku.
"Aku pergi Le"pamitku pada Lerisa.
"Iya Vir, hati*. Jaga dirimu baik* dan sampaikan salamku pada keluargamu."
"Pasti Le"aku segera masuk ke dalam kereta dan memilih bangku dekat jendela. Kereta melaju dan Lerisa melambaikan tangan. Aku membalasnya. Seketika aku menangis. Ku pasangkan headshet ke telinga dan memutar lagu Judika dengan judul Aku yang tersakiti mengiringi kepergianku. Betapa pedihnya kisah cintaku. Berawal dari pertemuan yang mengesankan dan berakhir dengan perpisahan yang mengenaskan. Aku sadar bahwa tak selamanya apa yang aku harapkan itu akan tercapai.
"Jangan pernah lupakan aku ya Vir. Semoga kamu menemukan kebahagianmu disana."ucap Lerisa dengan mata berbinar*.
"Aku tak akan pernah melupakanmu, kamu sahabatku. Aku banyak hutang budi padamu. Maafkan aku, aku belum bisa membalasnya"
"Lupakan itu Vir, kita sahabat. Iya kan?" Aku mengangguk dan ku peluk Lerisa.
"Aku pasti akan merindukanmu Le"ucapku melepaskan pelukannya.
Tuuutttt... Kereta jurusan Yogyakarta-Bandung berhenti tepat dihadapanku.
"Aku pergi Le"pamitku pada Lerisa.
"Iya Vir, hati*. Jaga dirimu baik* dan sampaikan salamku pada keluargamu."
"Pasti Le"aku segera masuk ke dalam kereta dan memilih bangku dekat jendela. Kereta melaju dan Lerisa melambaikan tangan. Aku membalasnya. Seketika aku menangis. Ku pasangkan headshet ke telinga dan memutar lagu Judika dengan judul Aku yang tersakiti mengiringi kepergianku. Betapa pedihnya kisah cintaku. Berawal dari pertemuan yang mengesankan dan berakhir dengan perpisahan yang mengenaskan. Aku sadar bahwa tak selamanya apa yang aku harapkan itu akan tercapai.
No comments:
Post a Comment